Kemarin, lampu luar ruko sebelah ilang, selidik punya selidik, deretan kami ini sering banget keilangan lampu, loket ynag jaraknya 12 m dari tempat kami ini juga sudah dua kali keilangan lampu, tetangga lain selama 1 minggu, 2 kali juga keilangan lampu.
Saya sendiri pernah kehilangan kunci starter genset, untung saja masih punya kunci serep, bayangkan kalo tidak punya, apa kami para perempuan dirumah ini kudu ngengkol genset, huhuhu.
Maling-maling ini sungguh keterlaluan, bahkan menurut suami, tanaman disekolah juga sempet pada ilang, temen yang kerja di tata kota sampe pusing, bunga-bunga yang di tanam di taman yang baru di bangun juga beberapa ilang, waduh...klelewatan sekali kan, ini jenis kelamin malingnya apa sih, sampai doyan tanaman juga...
Kehilangan sesuatu karena keteledoran sendiri saja keselnya minta ampun, apalagi jika diambil maling, yang jelas2 sengaja, keseeeeel banget, memang sih cuma sekedar lampu, tapi kan jadi kudu beli lagi.
Kenapa juga ada jiwa maling seperti ini, sadar gak sih para maling itu kalo hoby mereka itu bikin kesel, bikin rugi, sakitnya tuh disini..#nunjukdadadandompet.
Maling kok hoby, iya ternyata ada yang hobi maling, seneng aja kali para maling ini meliat orang sebel.
Saya berdoa semoga para maling ini cepat diberi kesadaran sama Alloh, supaya gak maling lagi, banyak hobi lain kan selain maling, ngasah batu cincin kek, mancing kek, apalah gitu yang bermanfaat dan gak nyebelin...
everything
Senin, 13 April 2015
Jumat, 10 April 2015
Setelah 25 Tahun
Jadi ceritanya kemarin, saya, suami dan anak2 main ke Bungo, nganterin teman beli bahan buat baju, sambil cuci-cuci mata, abis itu ngajakin anak main di lantai bawah hypermart, sayapun ikut ikutan ngejar2 toriq mandi bola.
Tiba-tiba saya bersitatap dengan seorang perempuan, kok kayaknya kenal ya..., tapi kok di sini gak mungkin banget, secara si mbak tinggalnya memang di kota Jambi, rasa penasaran bergemuruh, mau tanya tapi kuatir salah, kami bertatapan lagi mbak nya langsung teriak manggil saya.
Terjadilah adegan bersalaman, berpelukan, waduh...., si mbak adalah teman sekelas kakak saya, alias juga kakak kelas saya semasa SMA, dan adik si mbak ini temen SD saya, temen ngaji juga, si mbak kemudian memanggil adiknya. malah dengan temen saya ini sejak tamat SD gak pernah lagi ketemu.
Sayapun menyalaminnya, tapi...ya ampun, asli saya gak kenal ma teman saya, dia juga sepertinya gak ingat sama saya, masing-masing kami pasti menerka-nerka wajah kita dulu yang mana dalam benak masing-masing, 25 tahun yang lalu, dan bertemu sekarang, teman saya sudah punya anak 3 dan saya 2, andai tidak ada mbaknya, asli saya gak bakalan tau dia itu teman saya dulu.
25 tahun ternyata mengubah banyak hal, terutama fisik, kami yang dulu masih bocah, dan sekarang bertemu lagi, malah kami masing-masing sudah punya bocah, rasanya masih kepikiran saja, kok dia bapak2 banget, ya ampun ya iyalah anaknya 3, dia juga pasti mikir, kok saya ibu-ibu banget, saya aja mungkin yang suka gak sadar, saya juga asli emak-emak
Kamis, 09 April 2015
Coret-Coret
Si kecilku yang ganteng ini sedang top-topnya dalam urusan pegang spidol, awalnya sih cuma membiasakan mbaknya tulis-tulis di papan, biar makin lancar menulis angka maupun huruf, tapi Thoriq tentu gak mau ketinggalan, malah sering ngrecokin dan gak mau kalah sama mbaknya, kalau mbak pegang spidol thoriq juga kudu pegang spidol,
Sebenarnya kami sudah menyediakan papan tulis yang ukurannya 200 cm x 140 cm, menurut ayahnya sih sudah cukup besar buat mereka main spidol, tapi kenyataanya gak cukup juga, mulai dari meja kursi, tv, ceret, mejikom pun kena aksi coret Thoriq, kalau mbak sih sudah mulai ngerti mana yang boleh dan mana yang gak boleh untuk nulis.
Gak cukup benda-benda tadi loh ya, hampir seluruh dinding mulai dari yang dekat papan tulis hingga kekamarpun semua dicoret2, bakat jadi pelukis mungkin nanti ya, atau jadi kartunis... amin.
Pernah juga sih saya kesel banget, abis sprei yang baru beli sekitar sebulan, tanpa sepengetahuan saya di coret-coret juga, kalo sprei lama sih jangan ditanya, sudah lama digambarnya, jelas saja saya muring-muring, tapi kata suami, biarin saja cuma sprei saja kok,
Sebagai ibu-ibu biasalah ya, aksi coret-coret ini sering bikin kesel, biarpun pakai spidol khusus untuk whiteboard tetep juga gak bisa ilang jika dicuci, maka keren-kerenlah pernak-pernik barang dirumah saya, lebih artistik karena sudah diberi gambar-gambar abstrak oleh Thoriq.
Kalau mikir barang jadi pada antik gitu, sering terbit juga rasa malu, membayangkan kalau-kalau ada tamu, hua... dindingnya apik banget. kalau sudah gitu sih saya langsung mikir gini, ih masa kecil anak-anak gak lama ini, nikmatin saja, mengasuh dan mendidik anak memang tidak mudah, karena itu hadiahnya surga, kalau mendidik anak mudah hadiahnya cuma voucer pulsa #ngutipmajalahummi.
Sebenarnya kami sudah menyediakan papan tulis yang ukurannya 200 cm x 140 cm, menurut ayahnya sih sudah cukup besar buat mereka main spidol, tapi kenyataanya gak cukup juga, mulai dari meja kursi, tv, ceret, mejikom pun kena aksi coret Thoriq, kalau mbak sih sudah mulai ngerti mana yang boleh dan mana yang gak boleh untuk nulis.
Gak cukup benda-benda tadi loh ya, hampir seluruh dinding mulai dari yang dekat papan tulis hingga kekamarpun semua dicoret2, bakat jadi pelukis mungkin nanti ya, atau jadi kartunis... amin.
Pernah juga sih saya kesel banget, abis sprei yang baru beli sekitar sebulan, tanpa sepengetahuan saya di coret-coret juga, kalo sprei lama sih jangan ditanya, sudah lama digambarnya, jelas saja saya muring-muring, tapi kata suami, biarin saja cuma sprei saja kok,
Sebagai ibu-ibu biasalah ya, aksi coret-coret ini sering bikin kesel, biarpun pakai spidol khusus untuk whiteboard tetep juga gak bisa ilang jika dicuci, maka keren-kerenlah pernak-pernik barang dirumah saya, lebih artistik karena sudah diberi gambar-gambar abstrak oleh Thoriq.
Kalau mikir barang jadi pada antik gitu, sering terbit juga rasa malu, membayangkan kalau-kalau ada tamu, hua... dindingnya apik banget. kalau sudah gitu sih saya langsung mikir gini, ih masa kecil anak-anak gak lama ini, nikmatin saja, mengasuh dan mendidik anak memang tidak mudah, karena itu hadiahnya surga, kalau mendidik anak mudah hadiahnya cuma voucer pulsa #ngutipmajalahummi.
Rabu, 08 April 2015
Luka Hati Karsinah
Namanya Karsinah, dengan 2 orang anak yang pertama adalah perempuan dan sibungsu laki-laki, sehari-hari ia berjualan disebuah sekolah SMP dimana suaminya menjadi pelayan, meskipun seorang pelayan namun bersyukur, suami telah diangkat menjadi pegawai negri bersama para tenaga honorer beberapa tahun yang silam. tak terkira bahagia Karsinah memiliki suami dengan status pegawai negri, bagi Karsinah yang tinggal di desa nan jauh dari kota, status pegawai negri bukan main efeknya, terhormat di mata masyarakat tentunya.
Tak hanya berjualan jajanan disekolah, Karsinahpun juga menambah penghasilan dengan menderes, sebagaimana lazim masyarakat disekitarnya yang mata pencarian utama adalah bertani karet dan sawit, deres kebun milik orang lain tak apalah, karenan kebun sendiri tak punya, bahkan kebun milik mertua yang diwariskan pada suamipun telah terjual.
Hingga kini Karsinah masih menumpang tinggal dirumah papan yang dibangun ditanah milik sekolah itu, hasil berjualan cukup lumayan, seribu dua ribu untung dikumpulkan, bahkan untuk jajan tertentu paling hanya dapat untuk tiga ratus rupiah perbungkusnya, begitulah hidup bagi Karsinah, penuh perjuangan.
Malam hari ia menyiapkan barang jualan, beberapa dibuat sendiri semacam bakwan, tahu goreng,tempe goreng, pisang goreng, pagi-pagi selesai solat subuh Karsinah terlebih dahulu nderes kebun yang tak seberapa luasnya sebelum menjajakan jualannya.
Sadar betul tak cukup hanya pada gaji suami yang tak ada lagi sisa, telah terpotong tiap bulan untuk membayar hutang selama 15 tahun, bahkan Karsinah tak tau kemana habisnya uang pinjamn suaminya dulu, yang jelas kini ia harus bekerja keras bahkan untuk membelikan sebungkus rokok buat suami, belum lagi biaya hidup sehari-hari, semua hasil jerih payah Karsinah.
Beberapa hari ini hati Karsinah dilanda ngelisah dan amarah, ia mendengar kasak-kusuk tetangga bahwa suaminya bermain mata dengan perempuan desa sebelah,telah seminggu pula suami tak tidur dirumah, memang sebulan ini suami kerap mondarmandir bahkan tidur dirumah mertua yang tak pula begitu jauh dari rumah Karsinah.
Karsinah hanya dapat menceritakan gundah hatinya pada bude Rumini beserta suaminya yang tinggal tepat diseberang jalan rumahnya. bercerita memang tak mnegubah semuanya, tapi setidaknya sedikit tumpukan beban didanya terangkat.
Mungkin banyak yang mengatakan bahwa Karsinah perempuan bodoh, bukan rahasia lagi, suami yang temperamental, suka marah-marah kepada anak, suka berjudi, bahkan suami pernah menggadaikan motor mertua untuk berjudi, yang lebih membuat Karsinah tak berdaya, bahkan mertua tak pernah membela Karsinah dengan kesalahan anaknya. mertua malah terus menyalahkan Karsinah sebagai istri tak berguna yang menghabiskan harta suaminya. Karsinah menelan ludah, ngilu sekali hatinya.
Tak hanya itu, menurut bude Rumini, Karsinah mendengar bahwa suaminya juga kerap bermain perempuan, tapi Karsinah belum bisa membuktikannya meski sebagian hatinya percaya akan hal itu, entah apa yang membuat Karsinah mampu bertahan selama ini.
Teringat beberapa waktu yang lalu, suami yang juga nyambi membuat perabot semacam lemari, kusen, pintu, jendela dan semacamnya. kala Karsinah pulang mendapati sebungkus nasi didekat suaminya, tak pelak di remasnya bungkus nasi itu dengan amarah luar biasa.
"pasti ini dari perempuan itu" teriak Karsinah lirih, tak mau amarahnya terdengar oleh kedua anak mereka.
Suami Karsinah tetap diam, melemparkan martil kesudut ruangan dan berlalau pergi, hati Karsinah bagai dirajam sembilu. (bersambung)
Tak hanya berjualan jajanan disekolah, Karsinahpun juga menambah penghasilan dengan menderes, sebagaimana lazim masyarakat disekitarnya yang mata pencarian utama adalah bertani karet dan sawit, deres kebun milik orang lain tak apalah, karenan kebun sendiri tak punya, bahkan kebun milik mertua yang diwariskan pada suamipun telah terjual.
Hingga kini Karsinah masih menumpang tinggal dirumah papan yang dibangun ditanah milik sekolah itu, hasil berjualan cukup lumayan, seribu dua ribu untung dikumpulkan, bahkan untuk jajan tertentu paling hanya dapat untuk tiga ratus rupiah perbungkusnya, begitulah hidup bagi Karsinah, penuh perjuangan.
Malam hari ia menyiapkan barang jualan, beberapa dibuat sendiri semacam bakwan, tahu goreng,tempe goreng, pisang goreng, pagi-pagi selesai solat subuh Karsinah terlebih dahulu nderes kebun yang tak seberapa luasnya sebelum menjajakan jualannya.
Sadar betul tak cukup hanya pada gaji suami yang tak ada lagi sisa, telah terpotong tiap bulan untuk membayar hutang selama 15 tahun, bahkan Karsinah tak tau kemana habisnya uang pinjamn suaminya dulu, yang jelas kini ia harus bekerja keras bahkan untuk membelikan sebungkus rokok buat suami, belum lagi biaya hidup sehari-hari, semua hasil jerih payah Karsinah.
Beberapa hari ini hati Karsinah dilanda ngelisah dan amarah, ia mendengar kasak-kusuk tetangga bahwa suaminya bermain mata dengan perempuan desa sebelah,telah seminggu pula suami tak tidur dirumah, memang sebulan ini suami kerap mondarmandir bahkan tidur dirumah mertua yang tak pula begitu jauh dari rumah Karsinah.
Karsinah hanya dapat menceritakan gundah hatinya pada bude Rumini beserta suaminya yang tinggal tepat diseberang jalan rumahnya. bercerita memang tak mnegubah semuanya, tapi setidaknya sedikit tumpukan beban didanya terangkat.
Mungkin banyak yang mengatakan bahwa Karsinah perempuan bodoh, bukan rahasia lagi, suami yang temperamental, suka marah-marah kepada anak, suka berjudi, bahkan suami pernah menggadaikan motor mertua untuk berjudi, yang lebih membuat Karsinah tak berdaya, bahkan mertua tak pernah membela Karsinah dengan kesalahan anaknya. mertua malah terus menyalahkan Karsinah sebagai istri tak berguna yang menghabiskan harta suaminya. Karsinah menelan ludah, ngilu sekali hatinya.
Tak hanya itu, menurut bude Rumini, Karsinah mendengar bahwa suaminya juga kerap bermain perempuan, tapi Karsinah belum bisa membuktikannya meski sebagian hatinya percaya akan hal itu, entah apa yang membuat Karsinah mampu bertahan selama ini.
Teringat beberapa waktu yang lalu, suami yang juga nyambi membuat perabot semacam lemari, kusen, pintu, jendela dan semacamnya. kala Karsinah pulang mendapati sebungkus nasi didekat suaminya, tak pelak di remasnya bungkus nasi itu dengan amarah luar biasa.
"pasti ini dari perempuan itu" teriak Karsinah lirih, tak mau amarahnya terdengar oleh kedua anak mereka.
Suami Karsinah tetap diam, melemparkan martil kesudut ruangan dan berlalau pergi, hati Karsinah bagai dirajam sembilu. (bersambung)
Sabtu, 04 April 2015
Kenapa PLN Mati Hari ini....?
Jam sembilanan tadi pagi didepan salon datanglah truk mobil operasional PLN dengan membawa sebuah trafo besar yang beratnya 1,6 ton, untuk mengganti trafo lama yang kelihatannya sudah tidak layak digunakan karena jumlah pengguna PLN yang sudah semakin banyak, dengan trafo yang baru ini bisa jadi penggunaan lampu bakal lebih terang, begitu yang saya tangkap dari pembicaraan salah seorang kru PLN.
Konsekwensinya, ya hari ini lampu mati, para pekerja bergegas memasang peralatan yang menurut penglihatan saya cukup rumitlah, saya sambil ngangon Thoriq n Tata pun ambil bagian ngerumpiin pekerjaan mereka dengan beberapa orang tetangga yang kesemuanya pria.
" Aduh, kerjaannya bikin mules, itu rantainya kira-kira kuat gak ya...."(ngeliatin mereka menderek trofo lama, yang diiket2 rantai)
"iya tuh mbak, gak kayak yang kemaren mana muda-muda semua yang kerja, kayak yang dulu itu kan enak, pake mobil derek apa gitu.... ini ngeri liatnya..." kata temen A
"kuat tuh rantainya mbak..., sudah diuji...." kata teman B
"oh iyalah, pintarlah mereka dak, kita aja yang liat pada gak yakin..." kata saya, dasar emak-emak nyinyir...
Dengan usaha yang lumayan menurut saya, akhirnya trafo yang lama berhasil diturunkan, kami yang menonton saja cemas bukan main, membayangkan kalau-kalau benda berat itu jatuh dan menimpa yang bekerja, belum lagi waktu trafo yang baru di angkat, bener-bener bikin mules perut. dan trafo yang barupun berhasil dipasang dengan sukses, lega banget rasanya, padahal saya cuma nonton, apalagi yang pada kerja, kepanasan, narik2 tali, ngakat benda seberat itu, kebayangkan tidak mudah juga ngurusin lampu buat kita-kita para pelanggan yang kebanyakn nyinyir pula kayak saya.
sampe saya nulisin ini mereka masih pada diatas tiang, bahkan belum makan keliatannya, pasti semua itu dilakukan agar PLN dapat memberikan pelayan yang terbaik. jujur saja, saya tidak suka lampu mati, karena semua kegiatan saya terutama salon pasti butuh listrik, tapi saya gak mau juga lah nyalah-nyalahin PLN, nanti kalo saya yang ditantang suru bikin listrik mandiri gimana... saya mah gak berani, pake genset terus mah tekor.
Salut dech buat kru PLN, kalo gak liat begini mungkin gak bisa ngomong, trus ada yang nanya, dibayar brapa sih mbak buat belain PLN, nggak ada juga, cuma membayangkan saja kalo saya yang bekerja seperti mereka.... hua berat baget, swear....
Pelajaran berharga juga buat saya pribadi, gak perlu underestimate dengan kemampuan orang lain hanya dengan melihat, mereka dibidangnya pasti lebih tau....
Konsekwensinya, ya hari ini lampu mati, para pekerja bergegas memasang peralatan yang menurut penglihatan saya cukup rumitlah, saya sambil ngangon Thoriq n Tata pun ambil bagian ngerumpiin pekerjaan mereka dengan beberapa orang tetangga yang kesemuanya pria.
" Aduh, kerjaannya bikin mules, itu rantainya kira-kira kuat gak ya...."(ngeliatin mereka menderek trofo lama, yang diiket2 rantai)
"iya tuh mbak, gak kayak yang kemaren mana muda-muda semua yang kerja, kayak yang dulu itu kan enak, pake mobil derek apa gitu.... ini ngeri liatnya..." kata temen A
"kuat tuh rantainya mbak..., sudah diuji...." kata teman B
"oh iyalah, pintarlah mereka dak, kita aja yang liat pada gak yakin..." kata saya, dasar emak-emak nyinyir...
Dengan usaha yang lumayan menurut saya, akhirnya trafo yang lama berhasil diturunkan, kami yang menonton saja cemas bukan main, membayangkan kalau-kalau benda berat itu jatuh dan menimpa yang bekerja, belum lagi waktu trafo yang baru di angkat, bener-bener bikin mules perut. dan trafo yang barupun berhasil dipasang dengan sukses, lega banget rasanya, padahal saya cuma nonton, apalagi yang pada kerja, kepanasan, narik2 tali, ngakat benda seberat itu, kebayangkan tidak mudah juga ngurusin lampu buat kita-kita para pelanggan yang kebanyakn nyinyir pula kayak saya.
sampe saya nulisin ini mereka masih pada diatas tiang, bahkan belum makan keliatannya, pasti semua itu dilakukan agar PLN dapat memberikan pelayan yang terbaik. jujur saja, saya tidak suka lampu mati, karena semua kegiatan saya terutama salon pasti butuh listrik, tapi saya gak mau juga lah nyalah-nyalahin PLN, nanti kalo saya yang ditantang suru bikin listrik mandiri gimana... saya mah gak berani, pake genset terus mah tekor.
Salut dech buat kru PLN, kalo gak liat begini mungkin gak bisa ngomong, trus ada yang nanya, dibayar brapa sih mbak buat belain PLN, nggak ada juga, cuma membayangkan saja kalo saya yang bekerja seperti mereka.... hua berat baget, swear....
Pelajaran berharga juga buat saya pribadi, gak perlu underestimate dengan kemampuan orang lain hanya dengan melihat, mereka dibidangnya pasti lebih tau....
Kamis, 02 April 2015
Gerakan Sayang Mertua
Bukan rahasia lagi lah ya, kalo hubungan menantu perempuan dan ibu mertua itu sering kali panas bahkan membara karena konflik atau dingin seperti salju, menantu perempuan dan ibu mertua diam-diaman tanpa komunikasi, bahkan terkesan acuh, meski tak kurang juga hubungan menantu perempuan dan ibu mertua yang hanga-hangat kuku, alias baik-baik saja bahkan sangat harmonis.
Pernah seorang teman perempuan bercerita, ibu mertuanya stroke, sehingga tak mampu lagi berjalan dan duduk sepanjang hari di kursi roda, saat ibu mertua BAB, tak mungkin anak laki-lakinya yang membersihkan, sang menantu mengambil alih, dengan menggunakan masker ia menceboki ibu mertua, dia bilang pada saya "gak sanggup mbak....mau muntah, tapi saya tahan2", bayangkan menceboki dengan masker, apalah perasaan mertua, begitulah, tak mudah memang mengurus orang tua, tapi yang harus diingat beliau, ibu mertua kita, mengurus anak lelakinya dari mulai mengandung, melahirkan, menceboki, menyuapi, memandikan, mengajarinya banyak hal hingga anak lelakinya tumbuh besar, gagah, pintar, mendapat pekerjaan mapan dan suatu ketika menikah dengan kita, para istri, ibaratnya mertua yang menanam, para istri yang memanen.
Ketika telah menikah hidup lelakipun beralih kepada keluarganya, istripun mengambil peran besar dalam banyak keputusan yang dilakukan suami, istri pula yang kerap kali paling berperan mengelola penghasilan suami, enaknya jadi istri kan, padahal yang capek membesarkan adalah ibu mertua, bahkan seringkali kita sebagai istri lupa memberikan sebagian penghasilan suami pada ibu mertua.
Ketika suami kita dimarahin atau dinasehati atau apalah, kita para istri pula yang tidak terima, merasa ibu mertua ikut campur, suami kita kan bukan anak kecil lagi dan sebagainya, coba kita pikir lagi, dia ibunya, sesuatu yang wajar pula dia marah atau menasehatinya, pun ketika ibu mertua mengomentari cucunya, kita orang pertama yang sakit hati, padahal itu cucunya, anak dari anak lelakinya, wajar kalu dia perhatian, tapi kadang kala kita para istri malah merasa dianggap tidak pintar megurus cucu.
Yuk sayangi ibu mertua, toh kita sudah enak-enakan memanen hasilnya, jangan lupakan juga donk jasa ibu mertua, begini tipsnya
Pernah seorang teman perempuan bercerita, ibu mertuanya stroke, sehingga tak mampu lagi berjalan dan duduk sepanjang hari di kursi roda, saat ibu mertua BAB, tak mungkin anak laki-lakinya yang membersihkan, sang menantu mengambil alih, dengan menggunakan masker ia menceboki ibu mertua, dia bilang pada saya "gak sanggup mbak....mau muntah, tapi saya tahan2", bayangkan menceboki dengan masker, apalah perasaan mertua, begitulah, tak mudah memang mengurus orang tua, tapi yang harus diingat beliau, ibu mertua kita, mengurus anak lelakinya dari mulai mengandung, melahirkan, menceboki, menyuapi, memandikan, mengajarinya banyak hal hingga anak lelakinya tumbuh besar, gagah, pintar, mendapat pekerjaan mapan dan suatu ketika menikah dengan kita, para istri, ibaratnya mertua yang menanam, para istri yang memanen.
Ketika telah menikah hidup lelakipun beralih kepada keluarganya, istripun mengambil peran besar dalam banyak keputusan yang dilakukan suami, istri pula yang kerap kali paling berperan mengelola penghasilan suami, enaknya jadi istri kan, padahal yang capek membesarkan adalah ibu mertua, bahkan seringkali kita sebagai istri lupa memberikan sebagian penghasilan suami pada ibu mertua.
Ketika suami kita dimarahin atau dinasehati atau apalah, kita para istri pula yang tidak terima, merasa ibu mertua ikut campur, suami kita kan bukan anak kecil lagi dan sebagainya, coba kita pikir lagi, dia ibunya, sesuatu yang wajar pula dia marah atau menasehatinya, pun ketika ibu mertua mengomentari cucunya, kita orang pertama yang sakit hati, padahal itu cucunya, anak dari anak lelakinya, wajar kalu dia perhatian, tapi kadang kala kita para istri malah merasa dianggap tidak pintar megurus cucu.
Yuk sayangi ibu mertua, toh kita sudah enak-enakan memanen hasilnya, jangan lupakan juga donk jasa ibu mertua, begini tipsnya
- Perlakukan ibu mertua sebagaimana kita menghormati ibu kita sendiri, jangan dibedakan
- Lakukan komunikasi yang intens, jangan menggurui, sesekali mintalah nasehat
- Lakukan kunjungan rutin, bertemu tentu berbeda dengan hanya bertelefon, dengan komunikasi langsung, ibu mertua akan tau ketulusan hati menantu
- Saat kita berkunjung ke tempat mertua, biarkan ibu mertua beramain dengan cucunya, ambil alih pekerjaannya.
- Seperti di rumah kita sendiri, jangan sungkan di rumah mertua, bukan pula minta dilayanin seperti tamu, kerjakan apa yang bisa kamu lakukan, menyapu, mencuci piring, memasak, nyikat kamar mandi, semua pekerjaan domestik lah.
- Jangan hanya posting masak makanan enak, jalan-jalan kemana, jajan enak dimana, ajak juga ibu mertua jalan-jalan, ajak juga ibu mertua makan-makan bersama cucunya, kirim juga makanan enak yang kita buat, toh duit suami juga, aih ibu mertua sih gak kenal facebook, twitter, IG dan sebagainya, eits siapa bilang, toh ada adik-kakak ipar yang selalu update status dan memberi laporan lengkap pada ibu mertua kita.
- Sesekali belikan juga mertua sesuatu seperti baju, mukena, kain, batik, jilbab, tas, dompet, taplak meja, toples cantik, hatinya pasti akan meleleh (seorang teman bahkan membuatkan iklas suami membuatkan rumah orang tuanya, adalagi yang menghajikan mertua, semoga saya bisa begitu)
- Gak perlu marah jika suami sering tempat ibunya, begitulah anak seharusnya (saya banget ini... awal menikah kalo suami pulang kerja mampir suka urung-uringan, but believe me....sekarang gak lagi)
![]() |
| sumber : disini |
Semua itu tidak mudah, tapi kalau niat, semua pasti bisa, ingat juga kita punya anak lelaki, kelak suatu masa anak kita juga akan punya istri, bagaimana perlakuan kita pada mertua, begitu juga mungkin yang akan dilakukan menantu kita kelak, bila kita perlakukan ibu mertua dengan baik, bukan tidak mungkin suatu ketika menantu kita melakukan hal yang sama.
Saya berterima kasih tak terhingga pada ibu mertua yang telah mendidik suami saya sehingga menjadi suami yang hebat, semoga selalu menjadi suami dan ayah yang hebat bagi keluarga kecil kami sampai akhir hayat saya, saya juga belum mampu menjadi menantu yang hebat, baru bisa menuliskan, dan semoga bisa menerapkan.
#selfreminder
Selasa, 31 Maret 2015
RSD Tebo Masih Lebih Baik
Beberapa waktu yang lalu saya sempat menjenguk mertua yang di rawat di RS karena kaki tertimpa besi,3 jari kakinya patah sehingga harus dioperasi di rumah sakit daerahnya.
Bukan untuk membahas masalah sakitnya, tapi kunjungan saya kerumah sakit provinsi tetangga ini, cukup membuka mata saya, selama ini saya dan mungkin beberapa teman yang tinggal di Tebo ini agak sedikit nyinyir dengan pelayanan maupun fasilitas rumah sakit daerah Tebo. maka mulai hari itu, saya menjadi sangat bersyukur dengan keberadaan rumah sakit kita ini.
Rumah sakit yang saya kunjungin ini jauh dari kelihatan rapi, rumah sakitnya kecil baik dari luas lahan yang dimiliki maupun besarnya bangunan, bentuk bangunanya pun jadul sekali, entah kapan terakhir mengecat, plafonyapun banyak yang bolong, saluran pembuangan kurang lancar, karena aroma pesing menyerang hidung saya mulai dari dalam ruang perawatan tempat mertua di rawat hingga duduk di sepanjang selasar. belum lagi kamar mandi, kamar mandi diruangan itu tanpa pintu, hanya ditutup dengan gorden, bayangkan saya kebelet pipis dan pipis dengan rasa yang sangat tidak nyaman.
Sementara rumah sakit Tebo, bukan juga saya bilang sudah optimal pelayanannya, tapi secara fisik, lumayan lebih baik dari yang saya gambarkan barusan, rumah sakit kita lebih besar dengan parkiran yang lebih luas pula. bangunnya lumayan bagus dan besar2, waktu anak saya di rawat, lumayan nyaman meski kami di ruangan kelas II, karena waktu itu ruangan lain yang lebih baik semua penuh. selama 4 malam anak saya dirawat, sayapun dapat tidur dengan nyenyak, meskipun panas karena AC mati. dan sungguh, semua itu masih jauh lebih baik dari yang barusan saya rasakan.
Soal pelayanan tentu tidak bisa disamakan dengan rumah sakit swasta yang asli bikin betah nginap di rumah sakit, perawatnya yang ramah-ramah, sigap melayani pasien, sesuai juga dengan nominal yang kita keluarkan tentunya. pelayanan yang bagus itu pastilah mahal.
Lupa kapan persisnya terakhir ke RSD Tebo, tapi belum lama juga, paling 2 bulan yang lalu, saya lihat waktu itu mulai dibangun taman, pastinya supaya pengunjung makin nyaman berada di rumah sakit, Terkadang kita melihat, rumput tetangga lebih hijau, padahal kenyataannya ada juga rumput tetangga yang lebih gersang, rumah sakit kita mungkin belum senyaman rumah sakit yang lain, tapi dari pengamatan saya juga terus berbenah, semoga RSD Tebo makin berkualitas.
Maka tak harus selalu kita menilai daerah kita ini tidak berdaya apa-apa, tak pula harus terus berkometar buruk, sementara kita tinggal disini, mendapatkan rezeki disini, tapi selalu mengumpat para pengelolanya tidak becus. memang masih banyak yang harus di benahi, tapi mengumpat saja tak juga memperbaiki keadaan.
#renungandirisendiri
Langganan:
Postingan (Atom)
