everything

Rabu, 10 Agustus 2016

Tentang Full Day School

Bolehlah berpendapat tentang hal yang lagi rame diberita-berita itu yaitu Full Day School ya, versi mamak-mamak yang anaknya mulai sekolah, dari yang saya baca, pak mentri mengungkapkan 3 alasan wacana full day school ini yaitu:

1. Tidak ada mata pelajaran, menurut pak mentri full day scool ini pemberian jam tambahan, jadi yang akan dilakukan adalah kegiatan ekstrakurikuler yang meliputi 18 karakter seperti jujur, tolerasi, disiplin, cinta tanah air dan sebagainya, bisa jadi semacam pramuka, keterampilan, kesenian atau olahraga.

2. Orang tua bisa jemput anak ke sekolah, nah ini terutama buat anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja dari pagi hingga sore, sehingga sekalian bisa menjemput anak disekolah. tapi untk yang orang tuanya fleksible pekerjaannya, bisa jadi menjemput anak sekolah kapan saja tidak masalah.

3. Membantu sertifikasi guru, sejak adanya sertifikasi ini memang dibeberapa sekolah kekurangan jam dan menimbulkan banyak pro dan kontra, di satu sisi menambah pendapatan guru disisi lain ada target jam yang harus dipenuhi, hal ini menyebabkan beberap guru mengajar di 2 sekolah atau lebih untuk memenuhi tuntutan mengajar 24 jam. Hal itu juga jadi pertanyaan kiranya efektifkah mengajar di banyak sekolah apalagi sekolahnya jauh-jauh, takutnya si guru sudah kecapean dan sudah tidak konsentrasi mengajar, siswa juga yang dirugikan. Nah full day school ini akan bisa menjadi solusi.

Kalo pendapat saya pribadi sih setuju dengan adanya sekolah semacam ini, tapi pastinya tidak bisa serta-merta diberlakukan juga kan?. Banyak yang perlu dipersiapkan, sekolah yang menerapkan full day school kan harus punya fasilitas yang lengkap, kantin, mushola,  wc, sarana-sarana yang mendukung kegiatan ekstra kurikuler seperti lapangan olahraga, peralatan olah raga, peralatan musik dan masih banyak lagi.

Belum lagi ketersedian gurunya, apakah nanti guru-gurunya tidak keberatan disekolah hingga sore, kalau guru perempuan kan juga harus mengurus anak dan rumah, kalau guru laki-laki juga biasanya istrinya agak keberatan kalau sering-sering sampai sore disekolah (nah itu saya banget). Tidak mudahlah menerapkan full day school ini menurut saya.

Dari sisi kemampuan siswa dan orang tua siswa juga banyak hal yang dipertimbangkan, dengan full day school ini pasti akan menambah banyak biaya, misal untuk makan dan minum, membeli peralatan dan perlengkapan kegiatan ekstra tadi, pengeluaran bertambah, apakah semua mampu?. Apakah anaknya juga mampu mengikuti kegiatan sebanyak itu, bagaimana dengan yang fisiknya lemah, apakah istirahat disekolahnya cukup, sementara kayak anak saya kalau tidur siang sampai 2 atau 3 jam.

Sekarang kan juga banyak sekolah model-model gini, yang pulangnya sampai sore, jadi terserah kedua orang tuanya serta menimbang kemampuan anak akan di masukan kesekolah mana, kalau anaknya mau dan orangtuanya mampu ya tidak apa, yang pentinga tidak memaksa. Tersedia bermacam jenis sekolah kan menguntungkan kita, jadi kita juga bisa memilih yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Sebagai ibu rumah tangga yang sering kerepotan dirumah, rasanya full day school ini lumayan membantu dalam bayangan saya, kan saya bisa mengerjakan banyak hal saat anak disekolah, gak kuatir anak akan keluyuran, main game, disekolah juga bisa bermain dengan teman-temannya sambil melakukan kegiatan-kegiatan yang positif  dan asyik, asal jangan dijejali pelajaran wajib kayak matematika atau IPA seharian.

Lah terus saya setuju apa tidak? setuju dan tidak setuju, ora jelas banget kan? Emboh lah, kalau saya semangat empat lima berkomentar gini ke my bojo, jawabnya sungguh nyebelin, "ibuk tuh gak usah mikirin yang kayak gini, banyak kok orang pinter-pinter di negeri ini, mending ibuk mikir gimana rak tipi gak berdebu" hya... selalu koyok ngono.


sumber : https://nasional.tempo.co/read/news/2016/08/10/079794640/3-alasan-menteri-muhadjir-full-day-school-akan-menyenangkan

Sabtu, 06 Agustus 2016

Tentang Perawatan Wajah

Perlu kah perawatan wajah?, bagi saya perlu, apalagi sedari remaja kulit wajah saya yang tergolong jenis berminyak sudah sering jerawatan. Pori diwajah saya cukup besar ditambah lagi luka bekas jerawat jaman dahulu yang bikin muka tidak bisa halus.

Jaman masih remaja dulu, perawatan wajah saya cuma bersihin muka malam dan pagi, itupun tidak tiap hari, trus pake kream siang dan malam, waktu itu pakai kream siang malam tull jye, rekomendasi seorang teman yang kasusnya kayak saya, kulitnya berjerawat dan lumayan berkurang. Waktu itu juga tidak mikirin krimnya gimana2, yang jelas iklanya ada, itu sudah meyakinkan kalo aman.

Cukup loyal saya menggunakan tull jye karena kulit yang mudah jerawatan itu membuat saya mikir kalau mau ganti-ganti krim wajah, padahal banyak beredar krim-krim wajah yang menghasilkan wajah yang lebih putih. Sampai suatu masa, saya merasa kulit saya biasa-biasa saja, padahal dulunya pakai tull jye berasa cantik sedunia, hihihi. Bisa jadi faktor U yaa, sehingga bedak ini sudah tidak sanggup bikin cling muka saya yang kulitnya mulai menua.

Sempat juga beli paket aging Biokos, pakai kream siang, krim malam dan serum, awalnya lumayan, hampir setahun biasa-biasa saja. Terakhir ini saya kembali pakai perawatan wajah dari klinik medisa, sudah hampir 2 tahun ini, berhenti waktu hamil, begitu melahirkan mulai pakai lagi hingga sekarang.

Jika ditanya apa hasilnya memuaskan, bagi saya sih lumayan dari pada tidak pakai bedak, bikin putih juga tidak, yang penting tidak terlalu kusam saja. Iklas saja diumur segini memang kelihatannya tidak akan mendapatkan kulit wajah seperti jaman kuliah atau waktu dibawah 30 tahun. Tapi bertemu beberapa orang yang jauh lebih muda dan flek hitamnya sangat banyak membuat saya mampu bersyukur. 

Seperlu-perlunya perawatan wajah bagi saya, budget adalah hal utama yang akan menentukan produk yang saya gunakan,  sebagus apapun testimoni maupun promosi produk tertentu kalau harganya diluar jangkauan saya, tidak akan saya beli. Namanya juga perawatan, harus kontinyu, kalau sekarang bisa beli, trus besok-besoknya tidak bisa beli lagi atau budget perawatan bikin kantong melompong sampe ngurangin jatah belanja lainnya, saya sih dadah-dadah cantik. Lagian apalah saya ini, kok wani-wanine crito perawatan wajah...






Kamis, 28 Juli 2016

Obat Cacing

Tiap kali memasuki bulan ramadhan, bahkan satu bulan sebelumnya, biasanya televisi sudah mulai menayangkan berbagai iklan yang dibuat dengan versi puasa. Dulu banget, seingat saya sih iklan yang berkaitan dengan puasa itu cuma iklan syrup, eh tapi makin kesini segala produk mengeluarkan iklan versi puasa, sebut saja iklan sarung, obat sakit maag, sabun cuci piring, mie instan, susu kental manis, gula, cat dinding hingga obat cacing. tampaknya segala produk menjadi sangat laris dibulan puasa. Ambil positifnya, berkah ramadhan bagi banyak orang.

Iklan obat cacing yang ditayangkan menjelang puasa kemarin, langsung ngena dihati saya, kira-kira yang saya tangkap gini, kalau minum obat cacing, puasa jadi lancar, karena kalo cacing di perut itu berlebih, maka nutrisi makanan akan dihabisinya, jadi mudah laparlah kita. ya kalee.

So belilah kita obat cacing buat sekeluarga, saya sih memang sudah lama tidak minum obat cacing, anjurannyakan 6 bulan sekali, karena hamil kemarin jadi hampir setahun tidak minum obat cacing. Demikian juga anak-anak, biar sekalian bareng jadwal minum si obat cacing ini.

Untuk anak-anak tentu saja beli yang syrup, rasa jeruk waktu itu, satu botol berisi 10 ml, cukuplah untuk tata dan thoriq yang usianya belum mencapai 6 tahun, jadi masing-masing 5 ml saja. Ternyata oh ternyata, anak saya suka banget rasa obat cacing ini, eh tapi emang mereka berdua gampang banget yang namanya minum obat, apalagi vitamin-vitamin syrup, lancar jayalah ngasinya.

Waktu dikasi obat itu, dijelasinlah sama bapaknya, kalo itu obat cacing, bahwa diperutnya ada  cacing yang harus dibasmi bla-bla. Sekarang ini, tiap ke apotik mau beli obat cacing, sakit demam mau minum obat cacing,  batuk pilek mau minum obat cacing, gatal-gatal minta obat cacing. Pokoke semua serba obat cacing.






Selasa, 19 Juli 2016

Hari Pertama TK

Kemarin hari yang bersejarah buat saya, eh buat Tata juga ding, hari pertama masuk TK. Dari beberapa hari sebelumnya sudah sibuk siapin printilan sekolah, tidak banyak sih, cuma sepatu, pas photo, kaos kaki. Tapi sempet juga repot ndedel jilbab lantaran jilbab kekecilan, trus dijait pulak pake tangan. Eh ada yang lucu, pas foto kan di ambil sendiri, ternyata susah sekali ngambil foto serius gitu, maunya bergaya terus, sudah diarahkan mesti gimana gayanya, giliran di jepret kedua tangannya diangkat sambil nyengir, halah.

Abis subuh kemarin langsung rebus air yang banyak buat mandi Tata dan dua adeknya, biar semangat bangun dan mau mandi dengan cepat, jadi mandinya pakai air anget. Semoga besok-besok mau lah pakai air dingin, biar emaknya gak repot.

Syukur banget pagi kemarin tanpa masalah, Tata malah tidak mau dipakein baju n sepatu, mau pake sendiri, merasa dah gede kayaknya. Sarapan tidak ketinggalan, minum susu segelas dan beberapa suap nasi juga gak ada masalah, padahal biasanya males-malesan.

Jam 7 teng kita semua sudah selesai, saya dan Tata sambil ngendong Tody jalan saja ke sekolah, sekitar 200 m, sekalian ngajarin siapa tau besok-besok gak bisa jemput, bapaknya sama Thoriq naik motor, maunya jalan juga, tapi kuatir mondar-mandir ada saja perlengkapan Tata yang kurang atau ketinggalan.

Sampai di sekolah sudah lumayan rame, si ayah sibuk ngurusin administrasi saya langsung ngobrol-ngobrol sesama ibu-ibu pengantar lainnya yang sudah saya kenal, sambil cuci mata juga ngeliatin ibu atau bapak mondar-mandir dengan aneka gaya, ada yang berseragam kantor dengan highheels, berbaju modis dengan make up rapi, jilbab syar'i. Merhatiin gaya ini penting banget ya, takutnya nanti kalah gaya..hihihi, padahal arep nggaya ora kober. Sementara Tata dan Thoriq masih lari-lari main kesana-kesini.

Sekitar jam 8, mulailah anak-anak disuru berkumpul, membuat lingkaran, drama dimulai, Tata mulai mimbik-mimbik, tidak mau dalam barisan, malah ngumpet dibelakang saya, jadilah saya ikut didekat lingkaran anak-anak itu, ikut menirukan apa yang diucapkan bu guru, ketika alya datang, temannya yang sudah Tata kenal, langsung sumringah dan mau masuk dalam lingkaran. Oh ternyata malu tidak ada yang kenal.

Selesai solat dhuha dilanjutkan dengan acara nyanyi-nyanyi, suara Tata cukup kencang menirukan  lagu yang dinyanyikan temannya, bahkan terus-terusan tunjuk jari mau nyanyi didepan bersama ibu guru meskipun berkali-kali tidak ditunjuk. Alhamdulilah semoga hari kedua tidak perlu lagi ditungguin, nungguin sehari saja rasanya gempor minta ampun, soalnya sambil nggendong dan sesekali ngikutin thoriq. Lagipula Thoriq ini maunya ikutan mbaknya saja, bentar-bentar dia duduk disamping Tata, trus lari lagi keluar, kadang-kadang dia tidak buka sepatu pulak di aula yang juga digunakan untuk sholat ini.

Hari kedua ini, semua juga lancar, bangun pagi tidak ada masalah, bahkan selesai berpakaian dan sarapan masih sempat main-main dengan Tody, jam 7 teng diantar ayahnya, saya tidak ikut mengantar hanya berpesan tidak boleh nakal, tidak boleh nangis disekolah, pulangnya tunggu dijemput ibu.

Belum tega seratus persen jam 9 saya pergi juga ke sekolah, kata gurunya tidak apa-apa, tinggal saja kata bu gurunya, jam 10 jemput lagi, Tata sedang main ayun-ayunan. Di rumah cerita apa yang dilakukan disekolah, makanan yang disediain juga habisnya cepet ceritanya tampak senang. Oke, sepertinya semua baik-baik saja. Jujur saja, awalnya saya membayangkan Tata sekolah ini rumit sekali, tapi ternyata hari ini, itu tidak terjadi. Saya masih bisa masak, nyapu dan beberes rumah, sesekali mainan komputer juga.





Sabtu, 18 Juni 2016

Tentang Kerjasama Antara Suami Istri

Bagi saya dan suami, mengerjakan segala pekerjaan rumah yang tiada habisnya itu secara gotong royong adalah hal yang biasa, tidak ada juga komitmen dari sebelum menikah kok (halah waktu itu pikirannya ndang rabi, selak tuek), tapi seiring perjalanan berumah tangga, bagi-bagi tugas mengalir dengan sendirinya. Mosok yo tega suami ngeliat kita kerepotan, dianya asyik main hp atau nonton tv atau malah internetan.

Sejak satu bulan menikah, karena langsung mabok berat, suami dengan baik hati (nggak tau iklas atau tidak), mulai meringankan beban saya dengan mengambil alih pekerjaan rutin cuci pakaian, karena cuma kita berdua, nyuci juga tidak tiap hari. Mencuci memang menggunakan mesin tapi membilas selalu manual, lagipula toh yang berat membilas celana jeans panjangnya yang terasa menguras tenaga karena panjang dan berat, maklum saya jauh pendek dibanding dirinya, secara kalo saya beli celana selalu dipendekin, jadi kalo mbilas celananya serasa setinggi bahu saya.

Pun ketika anak kedua lahir, beliau tetep meringankan saya dengan urusan  pencucian, dan ketika kami memutuskan untuk menambah momongan yang ketiga, kita sempat berdiskusi, seandainya masih bisa kita berdua yang mengerjakan, tidak perlu menggunakan ART, sewaktu si ragil lahir, tentu saja pekerjaan rumah tangga yang beralih ke pak suami makin bertambah, saya sudah jelas direpotkan dengan mengurus bayi abang ini.

Pak suami kadang mengepel, membantu cuci piring, memandikan dua kakak  sibayi, menyuapi, mengajari ngaji sehabis magrib. Mungkin ada yang mikir, trus saya ngapain?..., hahai, masih banyak kok kerjaan saya, memasak, cuci piring, sapu-sapu, ngelap-ngelap, beresin tempat tidur, beresin mainan yang berserak setiap saat. bikin-bikin cemilan, terkadang kalo si jabang bayi ini lagi nggak mood, waktu saya banyak tersita untuk ngenong-ngenong sambil nyusuin. Apa dikira tak bikin bahu serasa mau ucul, pinggang mau patah, nah loh. Bahkan terkadang makan saja sambil menggendong dan berdiri, saat jabang bayi diem ya pekerjaan yang dibantuin suami sebagian kesaya lagi.

Semua yang kita lakukan ini sebenarnya berat, repot, capek, tapi mengingat itu semua adalah tanggungjawab setelah kita berkeluarga, maka lakukan saja, tidak perlu mengeluh lama-lama (soalnya kadang ngeluh juga sih), tidak perlu marah-marah karena pekerjaan yang tak berkesudahan ini. Bayangkan dengan segambreng pekerjaan ini, kalo pak suami tidak mau membantu, bisa sutris saya.

Sayapun sering ngobrol-ngobrol dengan teman yang mayoritas sudah berkeluarga dan punya anak, kebanyakan para suami merekapun mau bantu-bantu dan para istri ini sangat bersyukur bisa diringankan. Tidak selalu juga bantuannya dalam bentuk kegiatan perdapuran, seekstrim mencuci, memasak atau menyapu, momong anak saat pekerjaan domestik segunung itu sudah pertolongan yang luar biasa. Ada juga suami yang baik hati mencarikan ART karena waktunya sudah habis di tempat kerja. 

Saya yang ibu rumahan saja sering merasa kerepotan dengan pekerjaan rumah tangga, bisa dibayangkan yang harus bekerja diluaran, apalagi bila tanpa ART, opsi bagi-bagi tugas pasti sangatlah diperlukan. Percayalah, para lelaki yang mau membantu istrinya tidak akan mati gaya, eh, tidak akan mati juga kejantannya ding.

Nulis ini sebenarnya gegara beberapa hari lalu liat meme gambar laki-laki di dapur dengan tulisan, "lelaki yang pandai memasak, pandai bersih-bersih rumah, pandai mencuci pakaian, pandai melipat baju adalah laki-laki idaman, iya idaman, idaman perempuan malas".  Agak gimana gitu memaknai meme ini, tapi ya tiap orang punya pendapat masing-masing kok, kalau saya sih mikirnya gini aja, saya yang masuk kategori rajin saja #katasaya, mengidolakan lelaki seperti itu, jadi wajarlah kalo perempuan malas mengidolakannya juga.























Kamis, 19 Mei 2016

Cerita Lahiran ke-3


Sesuai saran  dokter sewaktu kontrol di minggu ke -34, tanggal 4 April kami dianjurkan utuk kontrol ke rumah sakit, tapi karena menurut saya masih kecepetan jadilah saya ke RS tanggal 11 April, usia kandungan waktu itu 37 minggu, perkiraan berat si bayi 3 kg, saya dan suami sepertinya sudah pada opsi lahiran dengan cesar saja, tapi melihat sepertinya saya masih ragu, perawat menayakan pada dokter apakah bisa dengan cara normal saja pada dokter kandungannya, pertanyaan yang mewakili pikiran saya juga sih, saya sudah menduga sih jawabannya, bisa tapi agak sulit.

Dari hasil bincang-bincang itu dokter menyarankan agar saya cesar saja dalam minggu itu, tapi berhubung HPL juga masih  tanggal 28 April, saya dan suami bersikeras menunggu hingga satu minggu sebelum HPL, dokternya sempat kuatir kalau nanti terjadi kontraksi lebih cepat, alasan saya sih supaya bayinya tambah besar dan juga pengalaman anak kedua yang lewat dari HPL tetap ga juga kontraksi membuat saya merasa yakin kalo anak ke-3 ini juga bakal demikian.

Ternyata prediksi saya benar, menjelang satu minggu sebelum HPL, tidak juga ada kontraksi, perut makin berat, bahkan kalau mau bangun dari tidur, saya sangat kerepotan, ndadak nyari pegangan supaya bisa berdiri.

Sesuai rencana, hari rabu saya masuk rumah sakit, perawat langsung menghubungi pak dokternya, dan saya diberitahukan kalau operasi bakal dilakukan esok pagi sekitar pukul 8. Saya dan suami mulai menyiapkan semuanya, karena malam itu kami harus sudah menginap di rumah sakit.

Malam itu rasanya saya tidak bisa tidur, membayangkan apa yang akan terjadi nanti diruang operasi, jujur saja mendekati kelahiran anak ke-3 ini saya sangat ketakutan, bawaannya mati saja, membayangkan tiga anak saya tanpa saya itu luar biasa menakutkan. Segala doa saya rapalkan sampai akhirnya saya bisa pasrah, bahwa kita semua pasti akan mati, jika saya melahirkan ini tidak mati, toh suatu  hari saya juga akan mati.

Dari jam empat pagi saya sudah klisak-klisik tidak bisa tidur, bentar-bentar melukin anak-anak yang tidur di samping saya (saya ikut tidu di lantai bareng anak-anak), jam 5 mulai bersiap-siap karena jam 6.30 akan diantar keruang lain untuk persiapan, hati saya makin tidak karu-karuan.

Ketika infus dan kateter sudah dipasang, perasaan saya kayak mau BAB saja, sampai 3 kali saya kekamar mandi sambil gondal-gandil megangin kateter, tapi rasanya kok tetep kayak mau BAB, menurut perawatnya saya stress, dia bilang "semua bakal baik-baik saja kok bu, nggak usah kuatir gitu".

Akhirnya sayapun didorong keruang operasi, sejenak berada diruang tunggu kamar operasi, dokternya belum datang, hanya satu perawat yang mondar-mandir mengurusi saya. Sekitar jam 9 pagi akhirnya saya didorong ke kamar operasi. Saya berusaha mengatasi ketakutan meliha orang-orang diruangan, mondar-mandir menyiapka ini itu, sampai saya di minta duduk membungkuk untuk disunti bius, saya sudah pasrah. Perut saya seperti digoyang-goyang dan kemudian terdengar suara tangisan, perawat yang memegangi infus ditangan saya bilang "sudah lahir bu", saya hanya bisa meneteskan air mata dan terus memanjatkan doa dalam hati semoga semuanya baik-baik saja.

Tak berapa lama seorang perawat membawa baby-3 ke dekat saya dan bilang, "bayinya sehat bu, laki-laki, berat 3,9 kg dan panjang 54 cm" saya kaget, alangkah besar ternyata, pantas saja minggu-minggu terakhir ini sesak sekali rasanya perut, saya hanya bisa melihat sekilas selanjutnya baby-3 langsung dibawa keruang anak.

Diruang perawatan saya sudah boleh makan dan minum, bagian pinggang kebawah masih belum terasa, kaki rasanya seperti kayu, beraat  sekali. Rasanya capek, pingin tidur, tapi mata ini tidak mau terpejam.

Cesar kedua ini tidak semenakutkan yang saya bayangkan, 6 jam kemudian kaki saya mulai bisa digerakan, saya mulai meneku-nekuk kaki yang pegal dan mencoba miring-miring sambil mringis-mringis menahan sakit, esok paginya dokter datang, kateter dan infus dilepas, saya sudah boleh duduk, berdiri dan jalan. Awalnya saya mencoba duduk, terasa masih keliyengan, kemudin saya mencoba berdiri kekamar mandi dan tengah hari saya sudah bisa jalan keruang anak dan menyusui.

Esok harinya, sabtu siang saat azan zuhur, saya sudah sampai dirumah. Alhamdulilah ya alloh, atas karunia yang tidak terhingga ini. masih diberi umur panjang, semoga saya bisa mendidik ketiga karuniamu ini menjadi anak yang soleh dan solehah, berguna bagi agama, orang banyak dan negara. amiin ya robbal alamiiin.









Senin, 11 April 2016

Jajanan Nyebelin

Jajan, anak kecilpun tau banget dengan kata-kata ini, sebenarnya saya paling sebel kalau anak njajan, tapi ya gimana lagi ya, sulit banget untuk sama sekali tidak njajan ini. Kenapa tidak boleh jajan?, bukan tidak boleh sama sekali, tapi sering kali anak-anak ini beli jajanan yang menurut standar kita para orang tua tidak baik buat kesehatan. Apalagi kami tinggal di pinggir jalan raya, dimana aneka jajanan yang menggoda selalu lewat berganti-ganti. 


Jajanan pertama yang saya tidak suka jika anak saya beli  adalah minuman jenis sachetan yang ditambah air plus es batu dan  aneka minuman gelas-gelasan. Pernah anak saya beli pas saya cicip, alamak manisnya minta ampun, sampai terasa gimana gitu di leher. Ada juga beraneka es-esan yang warna-warni semacam es lilin dengan aneka pilihan rasa, harganya sih memang sangat murah, karena manisnya itu anak-anak jadi sangat suka dan ketagihan.



Biasanya anak saya masih bisa di bujuk, kalau saya bilang itu tidak baik, biasanya dia akan berargumen, 

"mbak sely minum es itu boleh bu", maka saya akan bilang 
"nanti kalau tata sudah sebesar mbak sely itu, baru boleh", anak salon yang pada beli dimarahin, kalo beli tidak boleh didepan anak-anak-anak. Berhasil hari ini.


Besoknya tiba-tiba pulang minta duit, mau beli es itu lagi, saya bilang, 

"kan masih kecil, belum boleh" dia langsung menjawab, 
"itu tadi si A beli, masih kecil kok boleh?". Si A adalah anak tetangga yang umurnya baru 3 tahun, haduh, cari akal lagi 
"es itu manis banget nak, nanti mbak tata batuk, mbak tata anak pintar kan, nanti kita beli sirup saja ya". 
"Si A tidak pintar ya bu"
"iya..." #didampratibunya.


Jajanan kedua adalahan jajanan yang bungkusnya seperti telur, separo berisi susu dan coklat, separo lagi isinya mainan sekuti-kutil, menurut saya harganya mahal, belum lagi benda ini selalu nagkring tepat didepan kasir minimarket yang sudah ada sampai kepelosok desa itu #cobatebak. Teman saya bilang anaknya tiap hari beli itu, pernah juga sekali beli karna sama bapaknya 10 biji #pengsan. Tapi syukurnya anak saya masih bisa di bujuk dengan jajanan yang lain, kalau kata Thoriq.

"Jangan beli itu mbak tata, itu pait, mahal, nanti duit ibu habis" itu pasti ajaran saya yang kurang tepat kan, tapi itu cukup ampuh kok, biasanya di ganti susu kotak, es krim atau biskuit sudah mau, lumayan lebih mengenyangkan.

Begitulah ya, anak kecil sekarang  ini sudah pintar sekali berargumen, kadang membandingkan dengan temannya. Sering kali jengkel juga saat sudah tidak kuasa membujuk mereka, menyalahkan anak orang kan tidak bijaksana, saat kita berusaha membujuk anak untuk tidak beli, tau-tau dengan sukses temannya lewat menikamati jajanan itu, tentu hati jengkel bukan main, tapi telen saja sendiri. Memberi pengertian sampai sengerti-ngertinya pada anak sendiri itulah tugas kita dan swear... itu berat banget.