everything

Sabtu, 13 Agustus 2016

Pak Guru Dasrul

Kejadian yang menimpa Pak Dasrul, salah satu guru SMK di makassar mestinya tidak perlu terjadi. Saya mengalami menjadi murid, menjadi guru dan saat ini menjadi orang tua murid. Menjadi guru itu sungguh tidak mudah, mengajar  28 - 32 siswa dalam satu kelas, dengan karakter, tingkat kenakalan, tingkat kepandaian yang berbeda-beda tentu sangatlah ribet. Jangan bilang suasana kelas bisa anteng sepanjang 2 atau 3 jam pelajaran. Secara teori guru menerangkan anak menyimak, siswa bertanya guru menjawab, guru memberi latihan lantas anak mengerjakan sambil duduk manis. teorinya sih gitu, tapi pada kenyataannya kan tidak. 

Saat guru  menerangkan didepan kelas bisa jadi hanya setengah isi kelas yang serius memperhatikan, ada yang keliatannya mencatat padahal malah bikin-bikin gambar atau surat-suratan, ada yang sepertinya merhatiin serius sampe ndomblong padahal ngayal, ada yang berbisik-bisik dengan teman sebangku, ada yang colek-colekan kaki, ada yang sesekali ngelempar kertas saat guru nulis di papan dan masih banyak aktifitas lainnya. Ah dasar gurunya tidak bisa memanagemen kelas!, yo wes sekali-kali coba diam-diam kesekolah intip anaknya lagi apa, lah wong punya anak 3 saja dirumah sering emosi dan gedabikan. Lah kan sudah menjadi tugas guru? iya, tapi tugas orang tua juga kan mendidik anaknya, lah wong disekolah cuma dari jam 8 mpe jam 2. Jujurlah kita semua pernah jadi siswa, apakah kita semua siswa yang manis di kelas?.

Jika ada siswa yang dimarahi guru, lantas mengadu pada orangtuanya, si orang tua tak terima, kemudian datang kesekolah dan memukuli gurunya, menurut saya itu adalah hal yang sungguh keterlaluan, orang tua seharusnya memberi contoh yang baik, orang tua tidak lantas menerima mentah-mentah laporan si anak dan main hakim sendiri. Apa merasa yakin betul sudah memberikan pendidikan yang baik dan benar di rumah. Tindakan preman begitu hanya memuaskan ego sesaat, selanjutnya penyesalan luar biasa yang dirasakan. Belum lagi efek terlalu membela saat anak memang juga salah bukanlah hal yang baik untuk mental anak.

Bisa jadi si guru ada salahnya juga, tapi orang tua dan anak memukul guru hingga berdarah-darah, di dalam lingkungan sekolah pula, miris sekali. Semakin kesini menjadi guru semakin tidak mudah, anak-anak lebih banyak tidak hormatnya kepada guru. Jaman dulu tidak naik kelas itu hal yang biasa, tapi sekarang anak tidak naik kelas guru bisa terancam, sekolah bisa dibakar, raport bisa dirobek-robek didepan guru. Belum lagi pengaruh lingkungan, media sosial serta televisi yang juga sering memberikan informasi atau tontonan yang tidak layak dan samasekali tidak mendidik. Apakah orang tua dirumah sudah memfilter semua itu atau malah tidak tau sama sekali.

Saya masih sering mendengar orang tua berkata begini jika anaknya nakal "apa yang diajarkan gurumu disekolah", seolah-olah kalo anak nakal tugas guru memperbaiki. Anaknya belum juga bisa membaca, "ngapain saja guru mu disekolah",  anak kita sedikit nakal, kurang bisa lancar membaca, kurang mahir menulis, ya kita juga harus ikut mengajari dirumah. Ingat, murid dikelas itu tidak sama kemampuannya, ada yang cepat nangkap ada yang tidak, diajarkan berulang-ulang yang sudah bisa malah bosan, sementara guru juga dibatasi oleh waktu dalam mengajar.

Kejadian yang menimpa pak Dasrul bukan sekali ini saja, sudah sering terjadi, bahkan belum lama ini seorang mahasiswa tega menikam berkali-kali hingga nyawanya tidak tertolong. Bukankah hal semacam ini sangat mengerikan bagi para guru, pekerjaan yang sangat mulia, mendidik yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak tau menjadi tau, mendidik manusia menjadi lebih berkualitas dan lebih bermartabat. Saya sampai sering bilang gini kesuami, "hati-hati menghadapi anak-anak yah, jaman sekarang anak suka kelewatan". Semoga kejadian yang menimpa pak Dasrul tidak terulang lagi dimanapun, semoga para guru mendidik dengan hati nurani, orang tua lebih bijak menghadapi permasalahan anak, untuk menghasilkan generasi yang lebih baik.







6 komentar:


  1. Zaman sekarang memang lain dg dulu. Yang kusuka dari guru-guru sekarang ini, beliau2 itu tidak hanya sebatas guru tapi bisa jadi sahabat bagi anak2 didiknya. Murid akrab dengan guru, tapi tetap ada rasa hormat kepada guru.
    yah, semoga kejadian yang menimpa Pak Dasrul tidak terulang lagi dimanapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah...

      Hapus
  2. kadanga ku juga aneh kalau menghadapai anak, kalau ditegur baik-baik , gak mempan, ortu dipanggil gak datang dengan alasan sibuk. Eh saat anak diskors, ortunay gak terima katanay di ruamh sih baik-baik saja gak bermasalah. Aduh padahal kan guru yang merasakan di sekolah , apalagi kalau dia bermasalah sama semua guru. gak ngerti denagn ortu jaman sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ortu2 pada sibuk mungkin bu..., sehingga sampe lupa merhatiin anak...

      Hapus
  3. duuuh suka miris ya, ortu dan guru harusnya bekerjasama mendidik anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mbak...., anak justru yang jdi korban..

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung & meninggalkan komentar, tunggu kunjungan balik saya

If you follow my blog, I will do too