everything

Selasa, 19 November 2013

Janda/Duda, Emang Kenapa?

Menjadi janda atau duda, memang tidak mudah, apalagi jika ada anak, sudah tentu sangat kerepotan mengurus anak sendirian, tanpa seseorang yang biasanya bisa dijadikan tempat curhat kala ada masalah, membantu dikala repot, mendadak semua harus diatasi sendiri, bagi perempuan  apalagi yang tidak berpenghasilan, hal ini tentu akan sangat sulit, harus pula memikirkan  nafkah. sementara bagi lelaki, kehilangan istri juga menyebabkan luka yang tidak ringan, urusan domestik rumah tanggapun mendadak menjadi tanggungjawab sepenuhnya, padahal bagi kebanyakn lelaki urusan domestik rumah tangga seperti memasak, mengurus anak, membersihkan rumah adalah hal remeh temeh yang ternyata cukup sulit dilakukan.

Sudahlah  dirumitkan dengan keadaan harus mengatasi masalah sendiri, masih banyak pula omongan serba negatif yang seringkali menerpa dan  tatapan aneh atau belas kasihan yang harus dihadapi.

Seorang temen perempuan saya meninggal dunia, saat ini suaminya menjadi seorang duda dengan 2 anak balita, pernah saya bertemu, suami almarhum teman saya menjadi kurus, anak perempuannya yang berumur 3 tahun berpakain kebesaran dengan celana panjang kebesaran pula, saya sedih melihatnya, tapi dengan sabar dia mengikuti kehendak anaknya yang lumayan rewel, menemani hari-hari anaknya dengan sabar, salahkah suami teman saya ini menjadi duda, temen saya meninggal karena sakit kangker....

Adalagi temen perempuan saya, dengan seorang anak yang juga balita, suaminya meninggal kecelakaan  sepulang kerja, dihantam sebuah mobil tronton....saat ini diapun mengurus anaknya seorang diri, apa yang salah dengan teman saya yang mendadak harus menjadi janda, kalo boleh meminta, tentu dia tidak ingin menjadi single.

Seringkali kitapun tidak menganggap normal status janda atau duda, percayalah....sesungguhnya tidak ada yang ingin berstatus seperti itu, janda atau duda kan bukan merupakan suatu pilihan, tapi itu sebuah takdir yang harus kita terima, tidak harus untuk diolok-olok atau didiskualifikasi dari daftar pertemanan, perjodohan atau apalah....

Beberapa dari kita masih sulit menerima jika saudara kita, anak kita, kakak kita, sepupu kita, teman kita yang belum pernah menikah baik laki atau perempuan,  berhubungan serius atau malah mau menikah  dengan janda atau duda, ada saja penyataan kurang enak yang kerap kita dengar, misal "kok mau sih  kamu kawin sama dia, kan sudah duda/janda, mestinya kamu tuh cari yang perjaka/perawan". yaelah.... hari gini, kalo ada yang bilang gitu, tanya balik lagi donk...."lo tanya  ma alloh, kenapa suami/istrinya meninggal"

Tapi kalo ada  janda dan duda seumuran, trus mau menikah, langsung tuh kedengaran "nah cocok tuh" atau kakek duda kawin ma nenek janda, "lebih cocok tuh", walah.... emang janda dan duda itu hanya boleh berpasangan dengan janda duda juga, ga juga kan...?. trus boleh menjandi janda atau duda kalo sudah kakek nenek.

Semua orang ingin hidup ideal, sekolah pintar, kerja yang enak, pendapatan tinggi, pasangan yang cantik/ganteng, keluarga harmonis atau...... tamat sekolah pada waktunya,  kerja pada waktunya, menikah pada waktunya, mendapat anak pada waktunya dan mati pada waktunya....loh....waktunya tu kapan? balik lagi semua kan cuma alloh yang tau...kita kan hanya menjalani, memang bukan dengan berpangku tangan, tetap harus berusaha, tapi kesemuanya  alloh yang menentukan.

Tetangga saya belum pernah menikah, kemudian dengan iklas keluarganya menerima ketika dia menikah dengan seorang duda, alhamdulilah saat ini keluarganya baik-baik saja, jadi tidak ada relasi dan korelasi  kebahagia dalam berumah tangga dengan status janda atau duda  pasangan kita.

Didunia ini, kita tidak punya kapasitas untuk menghakimi seseorang hanya dengan status yang demikian, yang hidup berpasangan saja belum tentu baik, karena memang didunia ini semua hal ada lawannya, ada manusia yang baik, ada juga yang jahat, ada yang cantik, ada juga yang jelek,  ada miskin, ada kaya, ada pengertian, ada yang keras kepala, ada yang mudah emosi ada yang penyabar... begitulah dunia... tinggal bagaimana kita selalu belajar, belajar dan belajar dari orang-orang yang baik agar kita juga menjadi baik, menjadi bijaksana, menjadi penyabar, menjadi berguna bagi orang lain,  mengkoreksi diri sendiri jangan hanya sibuk mengkoreksi orang lain.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung & meninggalkan komentar, tunggu kunjungan balik saya

If you follow my blog, I will do too