everything

Rabu, 08 April 2015

Luka Hati Karsinah

Namanya Karsinah, dengan 2 orang anak yang pertama adalah perempuan dan sibungsu laki-laki, sehari-hari ia berjualan disebuah sekolah SMP dimana suaminya menjadi pelayan, meskipun seorang pelayan namun bersyukur, suami telah diangkat menjadi pegawai negri bersama para tenaga honorer beberapa tahun yang silam. tak terkira bahagia Karsinah memiliki suami dengan status pegawai negri, bagi Karsinah yang tinggal di desa nan jauh dari kota, status pegawai negri bukan main efeknya, terhormat di mata masyarakat tentunya.

Tak hanya berjualan jajanan disekolah, Karsinahpun juga menambah penghasilan dengan menderes, sebagaimana lazim masyarakat disekitarnya yang mata pencarian utama adalah bertani karet dan sawit, deres kebun milik orang lain tak apalah, karenan  kebun sendiri tak punya, bahkan kebun milik mertua yang diwariskan pada suamipun telah terjual.

Hingga kini Karsinah masih menumpang tinggal dirumah papan yang dibangun ditanah milik sekolah itu, hasil berjualan cukup lumayan, seribu dua ribu untung dikumpulkan, bahkan untuk jajan tertentu paling hanya dapat untuk  tiga ratus rupiah perbungkusnya, begitulah hidup bagi Karsinah, penuh perjuangan.

Malam hari ia menyiapkan barang jualan, beberapa dibuat sendiri semacam bakwan, tahu goreng,tempe goreng, pisang goreng, pagi-pagi  selesai solat subuh Karsinah terlebih dahulu nderes kebun yang tak seberapa luasnya sebelum menjajakan jualannya.

Sadar betul  tak cukup hanya pada gaji suami yang tak ada lagi sisa, telah terpotong tiap bulan untuk membayar hutang selama 15 tahun, bahkan Karsinah tak tau kemana habisnya uang pinjamn suaminya dulu, yang jelas kini ia harus bekerja keras bahkan untuk membelikan sebungkus rokok buat suami, belum lagi biaya hidup sehari-hari,  semua hasil jerih payah Karsinah.

Beberapa hari ini hati Karsinah dilanda ngelisah dan amarah, ia mendengar kasak-kusuk tetangga bahwa suaminya bermain mata dengan perempuan desa sebelah,telah seminggu pula suami tak tidur dirumah, memang sebulan ini suami kerap mondarmandir bahkan tidur dirumah mertua yang tak pula begitu jauh dari rumah Karsinah.

Karsinah hanya dapat menceritakan gundah hatinya pada bude Rumini beserta suaminya yang tinggal tepat diseberang jalan rumahnya. bercerita memang tak mnegubah semuanya, tapi setidaknya sedikit tumpukan beban didanya terangkat.

Mungkin banyak yang mengatakan bahwa Karsinah perempuan bodoh, bukan rahasia lagi, suami yang temperamental, suka marah-marah kepada anak, suka berjudi, bahkan suami pernah menggadaikan motor mertua untuk berjudi, yang lebih membuat Karsinah tak berdaya, bahkan mertua tak pernah membela Karsinah dengan kesalahan anaknya. mertua malah terus menyalahkan Karsinah sebagai istri tak berguna yang menghabiskan harta suaminya. Karsinah menelan ludah, ngilu sekali hatinya.

Tak hanya itu, menurut bude Rumini,  Karsinah mendengar bahwa suaminya juga kerap bermain perempuan, tapi Karsinah belum bisa membuktikannya meski sebagian hatinya percaya akan hal itu, entah apa yang membuat Karsinah mampu bertahan selama ini.

Teringat beberapa waktu yang lalu, suami yang juga nyambi membuat perabot semacam lemari, kusen, pintu, jendela dan semacamnya. kala Karsinah pulang mendapati sebungkus nasi didekat suaminya, tak pelak di remasnya bungkus nasi itu dengan amarah luar biasa.

"pasti ini dari perempuan itu" teriak Karsinah lirih, tak mau amarahnya terdengar oleh kedua anak mereka.

Suami Karsinah tetap diam, melemparkan martil kesudut ruangan dan berlalau pergi, hati Karsinah bagai dirajam sembilu. (bersambung)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung & meninggalkan komentar, tunggu kunjungan balik saya

If you follow my blog, I will do too